Ruang Tangis

Hampir setiap malam aku terjaga.

Dipenuhi emosional membara.

Diterangi rembulan yang mempesona.

Dihiasi lukisan abstrak yang ada.


Hanya dalam ini ruangan.

Aku bisa berbicara.

Halnya bercerita pada tulisan.

Karena tidak bisa ku ucap pada siapa saja.


Kertas dan pena sudah senantiasa.

Menemani aku setiap gelapnya.

Hari yang dimana orang beristirahat.

Tapi aku dalam tangisan terjerat.


Meringis...

Menangis...

Selalu berjuang tuk menangkis.

Gambaran kesedihan yang terlukis.


Aku bertanya pada kertas.

Apa aku bisa lepas.???

Apa aku bisa bebas???

Namun kertas hanya menggeleng tidak jelas.


Lalu pena mengangkat.

Apakah kau berpendapat???

Apa aku bisa mulus mendarat.???

Namum juga pena hanya bergeming cepat.


Kugoyangkan saja pena.

Kubisikan kertas agar bisa menerima.

Lalu angin datang menyapa.

Dengan santainya angin tanpa nada.


Sedikit terhibur.

Walau pikiran masih ngaur.

Walau pikiran masih kabur.

Dengan berbaring di atas kasur.


Walau bukan Hindu tapi aku menyepi.

Menepi dari keramaian yang mengusik.

Karena nyamannya bila aku menyendiri.

Bertemankan nuansa malam yang berbisik.


Menenggelamkan diri dalam sedih.

Hanya untuk kebutuhan pokok.

Sehari-hari ku rasa perih.

Dan diredakan oleh batangan rokok.


Setiap sedih ku terima.

Agar bahagia bisa berharga.

Gundah yang membelenggu.

Sudah ku relakan saat dia mengganggu.


Entah mengapa demikian.

Dalam ruangan ini aku merasakan kehidupan.

Kehidupan yang sangat menarik bagi ku karena tidak ada ga gangguan.

Sedikit pun dari mereka yang melontar ketidak jelasan.


Banyak ku dapati kekecewaan.

Dari mulai kekeluargaan, percintaan, maupun pertemanan.

Tak bisa ku ucapkan.

Pada mereka yang tidak memprihatinkan.


Aku hanya bisa membuat tangisan.

Yang aku berikan pada diri ini.

Karena tak mampu aku ceritakan.

Sebab tak ada yang peduli.


Ruangan ini adalah tempat.

Yang aku pakai untuk menumpahkan.

Air mata yang mengalir cepat.

Karena sakitnya hati yang berperasaan.





Komentar